Ulat bulu mungkin amat menjijikkan, bahkan tak sedikit orang
yang takut, karena memang bulu-bulu beracun yang menempel di seluruh tubuhnya
akan berakibat sangat fatal bagi siapa saja yang menyentuhnya. Dan itulah cara
ulat bulu mempertahankan hidup dari berbagai ancaman yang menimpa tubuhnya yang
sangat gembur itu.
Namun, kalau dipehatikan masa hidup ulat bulu tidaklah lama,
karena beberapa minggu kemudian setelah kenyang memakan daun dan bunga, sang
ulat akan membalut dirinya dengan kain kasa tebal, hingga menjadi sebuah
kepompong.
Dan yang sangat menakjubkan ketika ulat bulu keluar dari
kepompong. Wujudnya berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah,
bentuknyapun sangat lain dari bentuk tubuh sebelumnya.
Ulat bulu yang telah berbentuk kupu-kupu bisa terbang
kesana-kemari dengan memancarkan aurora yang menyedapkan pandangan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Padahal
sebelumnya ia hanya bisa merayap, makan, dan terus makan.
Dan perhatikanlah sang pohon yang menjadi induk semangnya
merelakan diri untuk menjadi santapan hidangan utama bagi koloninya, bahkan tak
sedikit ranting dan dahan yang digunakan untuk bersarang hingga daunnyadigulung
menjadi selimut panjang pada fase kepompong.
Namun begitu saat ulat bulu berubah menjadi seekor kupu-kupu,
perhatikanlah kelakuan kupu-kupu yang selalu hinggap dari bunga satu kebunga
yang lainnya, dan tak henti-hentinya kupu-kupu menari-nari diatas serbuk sari
bunga yang mulai mekar dengan bau yang sedap mengalun madu. Dan tahukah kenapa
kupu-kupu melakukan tarian dinamis nan romantis itu....?
Ternyata itulah tanda terima kasih sang kupu-kupu untuk
membalas segala nikmat makanan dan tumpangan hidup yang selama ini ia rasakan
semasa menadi ulat bulu dan kepompong.
Tarian dinamis itu, ternyata tarian sang kupu-kupu yang
membawa serbuk sari jantan dan
membuahkannya ke serbuk sari betina yang ia sebar keseluruh bunga. Dengan
menjadi perantara serbuk sari untuk membuahi bunga betina hingga tumbuh benih
buah yang sangat diinginkan manusia, dan sang pohon bisa regenerasi, itulah
bentuk balas jasa ulat bulu. Karenanya
sebagaimana perjalanan sang ulat bulu, kita pun demikian pula. Semasa bayi
hingga remaja bergelayut dan meminta makan, minum, serta menumpang perlindungan
kepada orang tua. Tanpa pamrih, keduanya memberikan segala kasih sayang dan
perlindungan kepada diri kita, sebagaimana sang kupu-kupu yang masih menjadi
ulat bulu, yang terus meminta pada sang pohon.
Disaat bayi, kita juga sangat lemah, bahkan kulit terasa
gembur dan rentan dengan aneka penyakit.
Namun berkat selimut perlindungan dan bimbingan orang tua kita, kini kita dapat
merangkak pelan namun pasti, bahkan akhirnya dapat berlari kesana-kemari.
Namun anehnya, kita tak seperti kupu-kupu yang berusaha
membalas segala jasa penolong utama kita, tapi justru sering kali masa bodoh atau
malah mencaci maki bahkan tak jarang membuang orang tua kita dalam asuhannya.
Anehnya lagi tak sedikit dari kita yang hanya sekedar menggerogoti harta dan
lindungan orang tua. Maka jika ulat bulu yang “menjijikkan” saja mampu membalas
budi terhadap pohon sang pelindung, mengapa kita tidak ,,,,,?
Dan jika ulat saja melakukan metamorfosa sesuai dengan
aturannya. Mengapa kita juga tak bermetamorfosa untuk mengubah hidup menjadi
lebih baik.?








0 komentar:
Posting Komentar