Belajar dari Mencoba

Informasi data pribadi tentang kehidupan yang terjadi

Selasa, 05 Maret 2013

Ulat Bulu



Ulat bulu mungkin amat menjijikkan, bahkan tak sedikit orang yang takut, karena memang bulu-bulu beracun yang menempel di seluruh tubuhnya akan berakibat sangat fatal bagi siapa saja yang menyentuhnya. Dan itulah cara ulat bulu mempertahankan hidup dari berbagai ancaman yang menimpa tubuhnya yang sangat gembur itu.
Namun, kalau dipehatikan masa hidup ulat bulu tidaklah lama, karena beberapa minggu kemudian setelah kenyang memakan daun dan bunga, sang ulat akan membalut dirinya dengan kain kasa tebal, hingga menjadi sebuah kepompong.
Dan yang sangat menakjubkan ketika ulat bulu keluar dari kepompong. Wujudnya berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah, bentuknyapun sangat lain dari bentuk tubuh sebelumnya.
Ulat bulu yang telah berbentuk kupu-kupu bisa terbang kesana-kemari dengan memancarkan aurora yang menyedapkan pandangan mata  bagi siapa saja yang melihatnya. Padahal sebelumnya ia hanya bisa merayap, makan, dan terus makan.

Dan perhatikanlah sang pohon yang menjadi induk semangnya merelakan diri untuk menjadi santapan hidangan utama bagi koloninya, bahkan tak sedikit ranting dan dahan yang digunakan untuk bersarang hingga daunnyadigulung menjadi selimut panjang pada fase kepompong.
Namun begitu saat ulat bulu berubah menjadi seekor kupu-kupu, perhatikanlah kelakuan kupu-kupu yang selalu hinggap dari bunga satu kebunga yang lainnya, dan tak henti-hentinya kupu-kupu menari-nari diatas serbuk sari bunga yang mulai mekar dengan bau yang sedap mengalun madu. Dan tahukah kenapa kupu-kupu melakukan tarian dinamis nan romantis itu....?
Ternyata itulah tanda terima kasih sang kupu-kupu untuk membalas segala nikmat makanan dan tumpangan hidup yang selama ini ia rasakan semasa menadi ulat bulu dan kepompong.
Tarian dinamis itu, ternyata tarian sang kupu-kupu yang membawa serbuk sari  jantan dan membuahkannya ke serbuk sari betina yang ia sebar keseluruh bunga. Dengan menjadi perantara serbuk sari untuk membuahi bunga betina hingga tumbuh benih buah yang sangat diinginkan manusia, dan sang pohon bisa regenerasi, itulah bentuk  balas jasa ulat bulu. Karenanya sebagaimana perjalanan sang ulat bulu, kita pun demikian pula. Semasa bayi hingga remaja bergelayut dan meminta makan, minum, serta menumpang perlindungan kepada orang tua. Tanpa pamrih, keduanya memberikan segala kasih sayang dan perlindungan kepada diri kita, sebagaimana sang kupu-kupu yang masih menjadi ulat bulu, yang terus meminta pada sang pohon.
Disaat bayi, kita juga sangat lemah, bahkan kulit terasa gembur dan rentan  dengan aneka penyakit. Namun berkat selimut perlindungan dan bimbingan orang tua kita, kini kita dapat merangkak pelan namun pasti, bahkan akhirnya dapat berlari kesana-kemari.
Namun anehnya, kita tak seperti kupu-kupu yang berusaha membalas segala jasa penolong utama kita, tapi justru sering kali masa bodoh atau malah mencaci maki bahkan tak jarang membuang orang tua kita dalam asuhannya. Anehnya lagi tak sedikit dari kita yang hanya sekedar menggerogoti harta dan lindungan orang tua. Maka jika ulat bulu yang “menjijikkan” saja mampu membalas budi terhadap pohon sang pelindung, mengapa kita tidak ,,,,,?
Dan jika ulat saja melakukan metamorfosa sesuai dengan aturannya. Mengapa kita juga tak bermetamorfosa untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.?

0 komentar:

Posting Komentar